Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.
(QS : Yasin, 36)
Dari ayat diatas sesungguhnya telah jelas bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini telah diciptakan Allah secara berpasang-pasangan. Ada laki-laki dan perempuan, ada terang dan gelap, ada manis dan pahit, ada SUAMI dan ISTRI, dan lain-lain.
Ketika kita berbicara tentang SUAMI - ISTRI akan muncul sebuah pertanyaan : Laki-laki seperti apa yang layak untuk menjadi seorang SUAMI.? Kebanyakan orang pasti berpendapat bahwa laki-laki yang telah memiliki kerja yang mapan dan umur yang cukup dewasa sudah pantas untuk menjadi seorang suami. Jawabannya : “Itu Belum Cukup”.
Kemudian kriteria apa yang pantas bagi kaum perempuan untuk menjadi seorang ISTRI.? Kebanyakan orang akan berpendapat bahwa kaum perempuan sudah pantas untuk menjadi seorang istri jika ia telah pandai memasak dan mengurusi rumah tangga dan anaknya. Jawaban yang sama “Itu Juga Belum Cukup”.
Lalu kriteria apa yang pantas bagi kaum laki-laki dan perempuan untuk bisa menjadi seorang SUAMI dan ISTRI yang baik agar bisa menjadikan rumah tangga kita seperti surga seperti pandangan Rasulullah tentang rumah tangganya.?
Mari kita sikapi kata SUAMI dan ISTRI itu sendiri yang jika kita miliki Insya Allah kita sebagai calon suami atau istri sudah cukup pantas untuk menjadi seorang suami ataupun istri. Kita yang telah menjadi seorang suami ataupun istri juga akan bisa menjaga keharmonisan rumah tangga kita jika kita telah memiliki kriteria tersebut. Insya Allah...!
SUAMI
S = “Setia” seorang suami haruslah setia kepada jodohnya (istrinya). Karna ketidaksetiaan akan mampu merusak sebuah hubungan rumah tangga. Dan kita bisa bayangkan bagaimana suatu rumah tangga jika di dalamnya terdapat seorang suami atau istri yang tidak setia atau bahkan kedua-duanya tidak memiliki kesetiaan. Bukankah pernikahan untuk selamanya hingga akhir hayat.?
U = “Úsaha” sudah selayaknya jika seorang suami itu punya suatu usaha yang artinya seorang suami harus punya sesuatu yang dapat digunakan untuk memberi nafkah keluarganya. Bisa berupa pekerjaan atau usaha yang halal lagi baik. Kamu bisa bayangkan bagaimana keadaan suatu rumah tangga jika seorang suami hanyalah seorang pengangguran dan tak punya keinginan untuk bekerja.
A = “Aman” sebuah kehidupan rumah tangga pasti akan sangat membutuhkah rasa aman. Seorang suami harus memiliki sikap melindungi. Tidak harus tindak kekerasan jika dalam sebuah keluarga terjadi kesalahpahaman karna kekerasan meskipun itu bertujuan untuk kebaikan keluarga.Yang dituntut lebih dari sebuah sikap dimana seorang suami mampu memberi rasa sejuk dan kedamaian pada istri dan keluarganya sehingga mereka akan merasa teduh hatinya seperti memiliki sebuah naungan yang mampu membahagiakan mereka.
M = “Memimpin” sudah selayaknya seorang suami menjadi seorang pemimpin dalam keluarganya yang mampu membawa keluarga menuju jalan yang diridhoi Allah.
I = “Iman” menutup segalanya karna apa gunanya semua kalau seorang suami itu justru tak punya iman. Hampir segala sesuatu telah diatur dalam Islam demi kebaikan hidup manusia.
ISTRI
I = “Ikhlas” siapa sih yang tidak senang kalau seorang istri bisa bersikap Ikhlas. Bisa menerima keadaan suami kita apa adanya. Bisa menerima apapun pekerjaan suaminya meskipun hanya seorang buruh Karna baru itulah yang mungkin mampu dilakukan seorang suami. Janganlah meminta kehidupan yang tak sanggup untuk dipenuhi oleh seorang suami. Karena hal ini bisa jadi nantinya akan memaksa suami untuk melakukan tindakan buruk demi bisa memenuhi keinginan istrinya khususnya yang bersifat materi.
S = “Setia” kesetiaan yang saling timbal balik antara suami dan istri sangatlah perlu. Karna jika salah satu darinya tidak memiliki kesetiaan maka rumah tangganya pasti berai. Jagalah kesetiaan itu bersama.
T = “Taat” bisa juga didefenisikan sebagai suatu kepatuhan. Selayaknya seorang istri itu patuh pada suaminya selama apa yang diminta oleh seorang suami tidaklah keluar dari jalan Allah. Lihatlah indahnya kehidupan rumah tangga Rasulullah S.A.W dan sahabatnya dengan kepatuhan para istrinya. Banyak kisah-kisah Rasul dan sahabatnya yang mengungkapkan kepatuhan seorang istri hingga Allah memberinya balasan Surga. Bahkan Rasulullah SAW pernah berkata "seandainya ia di perbolehkan oleh Allah untuk memerintahkan manusia untuk bersujud kepada manusia, maka aku (Rasulullah) akan memerintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya".
R = “Rajin” jika rasa aman dari seorang suami mampu menumbuhkan rasa damai di hati istrinya, sebaliknya sikap rajin dari seorang istri mampu menumbuhkan rasa damai dan sejuk dihati para suami. Suami mana sih yang bisa terima melihat istrinya yang pemalas tidak mau..... tidak mau..... dan tidak mau melakukan banyak hal yang sewajarnya dilakukan oleh para istri.! Jangan., Jangan biarkan hal ini terjadi..
I = “Iman” bukankah terasa indah dan bahagia jika seorang istri juga memiliki keimanan yang baik. Mampu berjalan di jalan Allah.! Terasa sangat indah bukan jika seorang suami dan istri sama-sama memiliki keimanan yang kuat.!
Dan dari kriteria diatas ada beberapa yang memiliki kesamaan yang harus dimiliki oleh kaum laki-laki dan perempuan seperti "Setia dan Iman", dan ada juga kriteria yang berbeda yang sesungguhnya digunakan untuk saling menutupi kekurangan masing2 hingga menjadi pakaian bagi keduanya untuk mewujudkan keluarga yang sakinah.